“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela. (Sai marhaposan tu Ibana ma tongtong nang hamu, ale dongan jolma! Usehon hamu ma rohamuna tu jolona, Debata do haposanta. Sela).
Sebuah kisah menarik tentang perjungan Cha Sa-soon, seorang wanita asal Korea berumur 69 tahun, akhirnya menerima SIM (Surat Izin Mengemudi) setelah 3 tahun berusaha untuk lulus dari ujian tertulis yang ditempuhnya. Ia sangat ingin mendapatkan SIM tersebut agar ia bisa membawa cucu-cucunya pergi ke kebun binatang.
Cha Sa-soon patut dipuji karena kegigihannya di tengah dunia yang serba instan ini. Ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak bisa memperolehnya, kita sering mengeluh dan menuntut. Di lain waktu, kita memilih untuk menyerah dan tidak lagi acuh ketika apa yang kita inginkan tidak segera terpenuhi. “Menunggu” adalah kata yang tidak suka kita dengar! Namun demikian, Alkitab sering menyatakan bahwa Allah menghendaki kita untuk menantikan Dia bertindak menurut waktu-Nya yang terbaik.
Pembacaan firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa untuk beroleh pertolongan Tuhan di segala keadaan tidak ada jalan lain selain harus percaya kepada Tuhan dengan mencurahkan seluruh isi hati kita kepadaNya. Dalam kerendahan hati kita menyerahkan semua keluhan kita kepadaNya karena Dialah pemegang kendali hidup kita. Hidup kita ini hanya ditentukan oleh perkataan Tuhan dan kuasaNya. Karena itu dalam segala perkara kita harus berserah kepada kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah yang terbaik bagi kita. "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." (Amsal 16:9). Jika Tuhan yang berkehendak, siapa yang dapat menahannya? Dengan tegas Tuhan mengatakan, "Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan," (Yesaya 46:10). Tapi masalahnya, mengapa masih ada orang Kristen yang ragu dan tidak percaya kepada Tuhan? Dalam menghadapi persoalan yang rumit kita malah lari mencari pertolongan secara instan kepada manusia.
Maka jika kita menantikan Allah berarti dengan sabar berharap kepada Allah atas apa yang kita butuhkan. Daud sadar betul mengapa ia harus menantikan Tuhan, sebab keselamatannya datang dari Tuhan (Mzm. 62:2). Ia meyakini bahwa tidak ada pihak lain yang dapat membebaskannya. Ia hanya dapat berharap kepada Allah, karena Allah saja yang mendengar doa-doanya.
Selamat Pagi dan Selamat beraktivitas…
