Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Ai sian asi ni roha do, umbahen na malua hamu, dalan haporseaon; jala ndada binahenmuna, silehonlehon ni Debata do. Nda tung sian parulaon i, asa unang adong na mamuji diri).
Konsep keselamatan selalu menjadi bahan perdebatan hingga kekinian. Ada yang memahami bahwa keselamatan adalah karena usaha manusia dengan memegang teguh Hukum Taurat, sebagian berpendapat keselamatan adalah anugerah. Ketika itu Rasul Paulus berhadapan dengan orang-orang Kristen Yahudi yang sangat dipengaruhi keyahudian dengan fanatisme legalisme dimana keselamatan itu diperoleh dengan seberapa setia mereka melakukan syarat-syarat keagamaan itu.
Maka orang-orang yang menganut konsep keselamatan melalui legalisme ini menganggap semakin banyak syarat-syarat agama yang mereka lakukan semakin besarlah peluang mereka untuk diterima oleh Allah alias masuk surga.Legalisme itu memang berpusat pada manusia dengan berbagai macam performan agamawi yang cenderung menjadi hipokrit dan arogan dan memiliki pola pikir ” saya lebih kudus dari kamu,
Dalam pengajarannya Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah pemberian Allah dan bukan hasil pekerjaan manusia. Namun teologi anugerah seringkali disalah mengerti oleh orang-orang Kristen. Adanya kecenderungan bagi orang-orang Kristen untuk menerima keselamatan tanpa mau berbuat apapun. Kita tidak boleh membiarkan diri kita berlaku sinis dan apatis. Jangan sampai kita berpikir: "saya kan sudah selamat.. saya sudah mendapat jaminan hidup yang kekal, jadi saya tidak perlu berbuat apapun untuk Tuhan." Itu bukanlah perilaku yang diharapkan Tuhan. Keselamatan memang hadir bagi kita sebagai bentuk anugerah kasih karunia Tuhan dan bukan lewat perbuatan baik kita. Itu benar dan merupakan kepastian.
Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat 8 ini,, memang menyatakan bahwa keselamatan itu datang bukan dari usaha kita, bukan dari perbuatan-perbuatan baik, bukan dari amal dan kehebatan kita memberi sumbangan atau sedekah. Ini bukan berarti bahwa kita boleh egois, hanya menerima dan tidak ingin memberi. Dalam ayat selanjutnya Paulus menjelaskan hal itu. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (ay 10). Lihatlah dikatakan disana bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan apa yang dipersiapkan Allah bagi setiap orang, dan hendaklah kita hidup dengan melakukannya. Dengan bahasa sederhana “Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi”. Keselamatan bukanlah pemberian berdasarkan perbuatan baik kita, tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu melakukan apapun, hanya duduk-duduk saja setelah menerima keselamatan, melainkan harus lebih giat lagi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di dunia ini.
Maka bekerjalah dan berkaryalah sebagai bukti keselamatan kita dan syukurilah keselamatanmu lewat segala perbuatan baik berdasarkan kasih, dimana lewat itu semua kita bisa memuliakan Tuhan. Perlu ada keinginan dan tindakan untuk menghubungkan iman dan praktek. Bersandar pada anugrah Allah, keselamatan di dalam Yesus Kristus, dan pertolongan Roh Kudus, marilah kita berusaha mengintegrasikan iman dalam perbuatan. Dengan demikian apa yang kita imani dapat terwujud dalam tindakan kita. Begitu juga, perbuatan kita semakin memperteguh iman kita. Ingatlah firman Tuhan: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2:22)
Selamat Beraktifitas.
